HOME
MARKETING
BROSUR
GEROMBOLAN ‘TENTARA’ PERUSAK BAWANG MERAH
  56

Bicara bawang merah tentu tidak akan pernah lepas dari hama perusaknya. Khususnya ulat grayak alias Spodoptera exigua. Si ulat dengan julukan ‘ulat tentara” itu memang menjadi hama utama yang umum merusak sayuran berumbi itu, yang dalam sejarahnya berasal dari daratan Iran dan Pakistan itu.

Mengapa kehadiran si perusak daun bawang merah itu menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai? Yang pasti jawabannya adalah untuk menyukseskan budidaya si merah berlapis itu. Seperti suksesnya Prancis merebut titel juara dunia untuk kedua kalinya di ajang Piala Dunia 2018 setelah di partai final mengalahkan Kroasia, yang sepertinya memang lebih banyak diharapkan untuk menjadi juaranya.

Selain itu, bawang merah sendiri memang telah menjadi salah satu komoditas hortikultura strategis yang keberadaannya terus mendapat perhatian pemerintah. Sejak 2016, kran impor bawang merah sudah ditutup. Kebutuhan domestik, yang menurut keterangan Sekretaris Jenderal Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Ikhwan Arif mencapai 1,2 juta ton per tahun, sepenuhnya dicukupi dari hasil panen para petani sendiri. Dan mulai tahun 2017, Indonesia akhirnya berhasil menjadi negara pengekspor bawang merah, bukan pengimpor lagi, dengan volume ekspor di tahun 2017 sebanyak 7.750 ton.

Kembali ke si tentara, maksudnya ulat S. exigua. Fase ulat memang menjadi fase yang paling merusak. Sementara saat menjadi ngengat, mereka hanya aktif terbang, makan, dan kawin, serta bertelur tanpa menimbulkan kerusakan pada bawang merah.

Ngengat betina biasanya mulai bertelur pada usia 2-10 hari. Telur-telurnya diletakan secara berkelompok di permukaan daun atau batang bawang merah, dan tertutup bulu-bulu putih yang berasal dari tubuh induknya. Yang patut menjadi perhatian adalah satu ngengat betina bisa menghasilkan hingga 1.000 butir telur. Bisa dibayangkan, seberapa besar kerusakan yang bisa ditimbulkan apabila semua telur itu menetas dan menjadi ulat-ulat yang rakus. Itu baru dari satu ngengat. Padahal ada ratusan atau bahkan ribuan ngengat dalam satu lokasi.

Pasca menetas atau tiga hari setelah telur dikeluarkan sang induk, larva atau ulat-ulat muda yang berwarna hijau muda bergaris hitam pada bagian punggungnya, layaknya tentara, itu akan langsung jalan-jalan dan melubangi bagian ujung daun lalu masuk ke bagian dalam daun, sehingga bagian ujung daun bawang akan tampak seperti terpotong atau berlubang.

Begitu masuk ke bagian dalam daun bawang, para ulat kelaparan itu pun langsung memakan permukaan daun bagian dalam, sementara bagian epidermis daun bagian luar dibiarkan tetap utuh. Sehingga daun bawang merah akan tampak transparan dan akhirnya terkulai hingga mengering.

Ulat ini memang ‘kejam’ sekaligus ‘unik’. Layaknya ulat yang lain, ia banyak menghabisi perladangan bawang merah pada malam hari. Ia memang tidak memakan habis seluruh bagian daun, tapi ulat itu membuat sengsara tanaman dengan hanya menyisakan bagian luarnya sehingga daun menjadi kehilangan fungsinya sebagai pabrik sekaligus suplier makanan bagi tanaman bernama latin Allium cepa itu.

Saat melakukan serangan awal, ulat tersebut memakan daun bawang secara keroyokan. Dan hanya butuh waktu semalam, gerombolan ‘ulat tentara’ ini bisa menghabisi daun bawang. Begitu isi daunnya sudah habis, ulat akan mulai menyebar. Bahkan, apabila populasinya besar dan tidak segera dikendalikan, bukan hanya daun yang menjadi incaran, umbi bawang merah pun bisa menjadi sasaran empuk berikutnya.

Selama di dalam rongga daun, pekerjaan sang ulat hanya satu, yaitu makan, dengan cara menggerek tadi. Satu ulat biasanya membutuhkan waktu makan antara 9-14 hari. Selama waktu itu, si ulat akan mengalami masa pertumbuhan dari instar pertama sampai instar kelima. Masa instar kedua dan ketiga menjadi fase yang paling aktif dan rakus memakan daun.

Apa yang membedakan dari masing-masing stadium pertumbuhan ulat grayak itu? Hanya ukurannya saja yang menjadi pembeda. Pada instar pertama, panjang ulat berkisar 2-3 mm. Sedangkan pada stadium instar kedua sampai terakhir panjangnya berkisar 3,75-35 mm. Untuk warna kulitnya tidak mengalami perubahan. Tapi warna kulit ulat ini hanya akan berubah jika berada pada ketinggian tempat yang berbeda. Pada dataran tinggi, warna ulat cenderung coklat atau coklat kehitaman.

Pasca melewati instar kelima atau stadium terakhir, dan setelah merasa kekenyangan, ulat akan merayap atau menjatuhkan diri ke tanah untuk melanjutkan proses metamorfosisnya menjadi kepompong. Pada fase ini, kepompong atau pupa akan berlindung di dalam tanah pada kedalaman 1 cm, atau sering juga berada di pangkal batang, di bawah dedaunan kering, atau di bawah partikel tanah. Setelah 6-7 hari kemudian pupa berwarna cokelat itu akan berubah menjadi ngengat.

Rakus

Sebagaimana umumnya sifat ulat, si tentara ini juga demikian, rakus makan. Hama satu ini memang bersifat polifag atau hampir semua jenis tanaman bisa menjadi makanannya. Tercatat, ada 90 hingga 200 spesies tumbuhan dari 18 famili yang bisa menjadi inang S. Exigua. Layaknya pasukan khusus yang biasa melakukan operasi senyap, ulat grayak ini pun aktif ‘menghabisi’ daun bawang saat malam hari.

Serangan ‘pasukan khusus’ itu akan semakin meningkat saat kemarau, saat tingkat kelembapan udara rata-rata 70% dan suhu berkisar 18-23 0C. Dalam kondisi tersebut ngengat akan mudah terangsang untuk berbiak dan bertelur. Sehingga populasinya akan meningkat tajam dengan tingkat serangan yang melampaui ambang keekonomian, dan perlu segera dikendalikan. Jika tidak lekas dikendalikan dampak terparahnya adalah fuso atau gagal panen.

(ABDI TANI Vol. 19 No. 2/Edisi LXIV, Oktober-Desember 2018)

Baca Juga :