HOME
MARKETING
BROSUR
HASILNYA TETAP ANTENG MESKI DI MUSIM RENDENG
  55

Bertanam di luar musim biasanya akan dihindari, karena membutuhkan biaya dan tenaga ekstra. Namun tidak demikian dengan petani cabai di Jember, berbekal Columbus, hasilnya tetap ciamik meski di luar musim.

Bagi petani cabai di Wuluhan, Jember, Jawa Timur, bercocok tanam cabai di musim kering atau kemarau itu sudah terlalu biasa. Lain halnya kalau di musim penghujan, atau petani setempat menyebutnya rendengan, baru bisa dibilang luar biasa.

Harga jual yang lebih tinggi menjadi incaran dan alasan utama para petani cabai Wuluhan untuk lebih memilih bercocok tanam cabai di musim rendengan. Meski begitu, mereka juga menyadari kendala yang harus mereka hadapi akan lebih banyak, utamanya terkait serangan penyakit yang intensitasnya lebih tinggi dibanding saat musim kemarau.

Oleh karena itu, dalam budidaya cabai rendengan, pemilihan dan penggunaan varietas yang tepat menjadi faktor penentu utama. Tidak hanya sekedar tinggi produktivitas, tapi varietas tersebut juga harus mampu bertahan dalam kondisi lingkungan rendengan dengan intensitas serangan penyakit yang lebih tinggi.

“Kami sudah biasa tanam cabai rendengan. Banyak jenis cabai yang sudah saya coba. Tapi menurut saya yang paling bagus itu Columbus,” ujar Sampun, salah seorang petani cabai rendengan asal Desa Kesilir, Wuluhan, Jember.

Kecocokan Sampun dengan cabai besar hibrida Columbus bukan tanpa alasan. Sudah empat kalinya ia menanam cabai besar produk PT BISI International, Tbk. itu di musim rendengan, dan hasilnya tetap ‘anteng’ alias stabil kualitas dan hasilnya.

“Saya sangat cocok dengan Columbus. Sudah empat kali tanam rendengan, buahnya gembel (lebat-red.), pupusnya (tunas dan bunga-red.) tumbuh terus. Terakhir saya tanam 4.000 batang ditebas (dibeli-red.) pedagang Rp50 juta. Sampai sekarang buahnya masih gembel, belum habis, pedagangnya sendiri sudah dapat Rp100 juta,” terang Sampun saat ditemui Abdi Tani di lahan cabainya.

Sementara itu menurut Muhtarom, petani cabai yang juga berasal dari Desa Kesilir, pengalamannya bertanam Columbus di rendengan semakin memantapkan keyakinannya terhadap varietas cabai satu ini.

“Di musim rendengan saja bagus, apalagi di musim ketigo (kemarau-red.). Sudah pasti akan lebih bagus lagi. Karena tanam saat ketigo itu lebih gampang. Semua pasti bisa. Beda dengan saat rendengan,” ucap Tarom, sapaan akrab Muhtarom.

Menurut Tarom, keunggulan Columbus di musim rendengan utamanya pada performa tanamannya yang lebih tahan layu dengan produktivitas yang tinggi dan kualitas buah yang lebih bagus.

“Buahnya besar, lentur, dan anti pathek (Antraknose-red.). Buahnya stabil dan sangat seragam, merahnya bagus, sampai petikan ke-10 ukurannya masih besar-besar. Pasar sudah suka,” terang Tarom.

Super dan ‘akor’

Hasil panen banyak dan disukai pasar. Itulah dua hal yang selalu diharapkan menjadi garansi bagi para petani dalam usaha taninya. Demikian halnya saat para petani cabai di Jember menggantungkan harapannya pada Columbus.

“Produksinya terbukti bagus, hasilnya banyak, dan pasarnya juga suka,” ujar Sampun.

Hal itu juga dibenarkan oleh Eka Putra, pedagang pengepul sayuran di Desa Purwojati, Wuluhan, Jember. Menurutnya, hasil panen cabai besar Columbus sudah sesuai kriteria pasar. Bahkan, lanjutnya, pasar langsung ‘akor’ alias cocok dengan hasil panen cabai ini. “Karena, yang disukai pasar itu ya yang seperti Columbus ini cabainya. Buahnya besar-besar, panjang, dan seragam. Super semuanya,” kata Putra.

Selain itu, lanjut Putra, daya simpan hasil panen Columbus juga terbukti bagus. “Buahnya itu lebih lentur, tidak mudah patah, sehingga lebih tahan simpan. Meskipun diserep (menginap-red.) hingga dua hari buahnya tidak kisut dan masih bagus,” terang Putra yang dalam sehari bisa mengirim hingga 7 ton cabai ke berbagai pasar yang ‘akor’ atau cocok harganya.

Sementara itu, Bonari Widodo, petani sekaligus pedagang sayuran asal Genteng, Banyuwangi juga mengakui kelebihan Columbus. “Disukai pasar lokal seperti Surabaya. Karena, buahnya lentur, buahnya besar dan sangat seragam. Bagus kualitasnya,” ujarnya kepada Abdi Tani.

(ABDI TANI Vol. 19 No. 2/Edisi LXIV, Oktober-Desember 2018)

Baca Juga :