HOME
MARKETING
BROSUR
INTANI 602 DONGKRAK PRODUKSI PADI SIDRAP
  87

ABDI TANI Vol. 19 No. 1 Edisi LXIII, Januari-Maret 2018

Hibrida sebagai teknologi pendongkrak produksi. Inilah yang dirasakan langsung oleh para petani padi di Kabupaten Sidrap, yang notabene merupakan salah satu lumbung padi utama Provinsi Sulawesi Selatan.

Padi hibrida produksi PT BISI International, Tbk. itu ditanam di petak sawah milik Lakonding seluas 0,3 ha yang ada di Desa Wanio Timoreng, Kecamatan Panca Lautang, Sidrap. Kali ini Intani 602 ditanam di luar musim tanam biasanya.

Menurut Yanto Arbanu, petugas penyuluh lapang BPP Kecamatan Tellu Limpoe, Sidrap, ada dua musim tanam padi di Sidrap, yaitu Oktober-Maret (Omart) dan April-September (Asep). “Di masing-masing musim tanam itu biasanya ada dua kali tanam. Musim tanam Omart misalnya, tanam pertama di bulan Oktober dan panen pada bulan Januari. Kemudian tanam lagi di bulan Februari dan panen di bulan Mei, dan ini yang dimaksud tanam di luar musim,” jelas Yanto.

Kendala utama tanam padi di luar musim adalah serangan hama dan ketersediaan air irigasi. “Hama tikus lebih banyak menyerang dan air irigasi tidak mengalir, sehingga hanya bisa mengandalkan sumur bor untuk memenuhi kebutuhan airnya,” terang Yanto.

Padi hibrida Intani 602 di Sidrap sendiri juga baru dua musim ditanam, itu pun di luar musim semuanya. “Meskipun di luar musim, hasil produksinya sangat bagus. Lebih tahan banting dari serangan hama dan kondisi iklim di luar musim tanam. Petani sendiri heran, padi hibrida lain biasanya tidak bisa penuh malainya, tapi Intani 602 bisa penuh,” ujar Yanto.

Dongkrak produksi

Sebagai hasil pengembangan teknologi, padi hibrida Intani 602 memiliki sejumlah keunggulan yang akan memberikan keuntungan lebih kepada para petani, utamanya dalam hal produktivitas dan ketahanan penyakit. Di tingkat petani, padi hibrida tersebut terbukti mampu berproduksi lebih tinggi.

Seperti pada hasil panen Intani 602 di lahan milik Lakonding tersebut. Dari lahan seluas 31 are atau sekitar 0,3 hektar, ia bisa memanen gabah sebanyak 22 karung (berat per karung ±120 kg-red.). Hasil itu menurut Lakonding masih lebih tinggi dibanding hasil dari padi hibrida lain yang pernah ia tanam di luasan yang sama.

“Padahal (Intani 602) ini ditanam di luar musim, masih bisa menghasilkan produksi yang lebih bagus,” ungkap Lakonding.

Tak ayal, keberhasilan Lakonding mengembangkan Intani 602 itu pun dijadikan contoh bagi petani padi lain di Sidrap. Pada 15 Desember 2017 lalu, petak padinya dijadikan lokasi panen raya yang dihadiri langsung sejumlah petani sekitar serta beberapa pejabat terkait, di antaranya: Staf Bidang Produksi Tanaman Pangan Sulawesi Selatan Muhsinin, Camat Panca Lautang Andi Baso, Kepala PPK Pertanian Syamsu Alam, Kepala BPP Abdul Latif, dan Kapolsek Panca Lautang Jaknes Tatuil.

Hasil panen Intani 602 milik Lakonding sebanyak 22 karung tersebut didapat dari hasil pemanenan dengan menggunakan mesin pemanen padi (combine harvester) yang dilakukan di tengah-tengah acara panen raya. Jika dikonversikan ke satuan hektar, hasil panen padi hibrida ini mencapai 8,8 t/ha gabah kering panen (GKP).

Hasil tersebut mendapat apresiasi Camat Panca Lautang Andi Baso. Menurutnya, dengan menggunakan teknologi padi hibrida, maka akan memudahkan upaya peningkatan produksi padi, khususnya di wilayahnya yang menjadi salah satu lumbung padi di Kabupaten Sidrap.

Kepala PPK Pertanian Syamsu Alam juga menyampaikan hal yang sama. Syamsu mengatakan, lahan-lahan percontohan seperti milik Lakoding tersebut sebagai upaya untuk memberikan contoh nyata bagi para petani terkait teknologi padi hibrida. Sehingga transfer teknologi terkait upaya peningkatan produksi padi ini bisa lebih cepat diadopsi petani.

Sementara itu, Pimpinan Marketing Field Crop PT BISI Area Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara  Amran Sirwan mengatakan, padi hibrida Intani 602 merupakan produk baru hasil pengembangan tim riset dan pengembangan PT BISI yang semua prosesnya dilakukan di Indonesia. Sehingga, tanamannya pun lebih sesuai dengan karakter iklim dan lingkungan di Indonesia.

“Keunggulan utama padi hibrida Intani 602 ini adalah terletak pada hasil panennya yang tinggi dan ketahanan terhadap serangan hama penyakit yang lebih baik,” terang Amran.

Dengan hasil panen Intani 602 yang cukup tinggi tersebut, lanjut Amran, maka Sidrap akan mampu surplus beras. “Oleh karena itu, para kelompok tani diharapkan dapat diberikan bimbingan teknis terkait upaya peningkatan produksi seperti ini,” lanjutnya.

Trio paket “BOOM”

Hasil optimal yang didapat Lakonding dengan menanam Intani 602 tersebut juga tidak terlepas dari bimbingan teknis para petugas lapang. Menurut Yanto, padi hibrida milik Lakonding tersebut ditanam dengan sistem tanam pindah (tapin).

“Pindah tanam bibit padi dilakukan pada umur 21 hari setelah semai. Pemupukannya sebanyak dua kali dengan menggunakan Urea 50 kg dan NPK 100 kg,” terang Yanto.

Lebih lanjut Yanto mengatakan, untuk meningkatkan potensi padi hibrida tersebut, ada tambahan paket pupuk dan pestisida yang diberikan di tiga waktu berbeda. “Kita juga berikan trio paket BOOM, yaitu: BOOM Bastis, BOOM Padi Jos, dan BOOM Padi. BOOM Bastis disemprotkan pada umur 20-30 hari setelah tanam (hst), BOOM Padi Jos pada umur 45-55 hst atau saat malai mulai keluar, dan BOOM Padi pada umur 65-75 hst atau saat malai padi sudah keluar semua,” ujarnya.

Ketiga paket BOOM tersebut merupakan paket produk peningkat produksi dan kualitas hasil panen padi dari PT Multi Sarana Indotani (salah satu anak usaha PT BISI yang memproduksi pupuk dan pestisida). Paket BOOM Bastis berisi pupuk Tanivit-B, insektisida Total Max 200EC, fungisida RecorPlus 300EC, ZPT Bigest 10T, dan perekat perata Besmor Ultra. Sedangkan paket BOOM Padi Jos terdiri dari pupuk Tanivit-B, insektisida Experto 300EC, fungisida Recor Plus 300EC, ZPT Bigest 40EC, dan perekat perata Besmor Ultra.

“Sementara BOOM Padi merupakan paket yang sudah lama dikenal petani di Sulawesi, isinya juga lengkap, yaitu: pupuk Multi Padi, fungisida RecorPlus 300EC, ZPT Bigest 40EC, dan Besmor Ultra. Fungsinya untuk meningkatkan produksi dan meningkatkan kualitas hasil panen. Gabah akan lebih berisi dan lebih bersih karena aman dari serangan jamur. Buktinya, hasil panen Intani 602 yang ditanam di luar musim hasilnya bagus dan malainya bisa terisi penuh,” jelas Yanto.

Baca Juga :