HOME
MARKETING
BROSUR
JEND. TNI (PURN.) MOELDOKO: PETANI HARUS BERANI KAYA
  13

Salah satu ciri khas petani di Indonesia adalah kepemilikan lahan yang sempit. Rata-rata hanya 0,2 ha. Keterbatasan inilah yang menjadi salah satu faktor pembatas tingkat kesejahteraan para petani di Indonesia.

Hal itulah yang disinggung Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jend. TNI (Purn.) Dr. Moeldoko, S.IP. dalam rangkaian acara panen raya jagung HKTI bersama PT BISI International, Tbk. (BISI) dan PT Charoen Pokphand Indonesia, Tbk. (CPI) bertajuk Guyub Panen Nusantara yang diikuti 1.200 petani jagung di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur (18/10/2018).

“Ada lima persoalan yang dihadapi petani, salah satunya adalah persoalan kepemilikan tanah. Luas tanah di Indonesia bagi petani itu telah menyusut, kurang lebih hanya 0,2 hektar setiap keluarga petani,” terang Moeldoko
yang asli Kediri itu, tepatnya dari Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri. Meski begitu, lanjut mantan Panglima TNI itu, keterbatasan lahan tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bisa sejahtera. “Petani harus berani bermimpi menjadi kaya. Kalau bermimpi menjadi kaya saja takut, bagaimana bisa
menjadi kaya,” ujar Moeldoko.

Untuk itu, lanjut Moeldoko, tanah sempit yang dimiliki petani itu harus bisa dimaksimalkan potensinya, agar hasilnya bisa meningkat, dan pendapatan petani juga ikut meningkat. Ada dua hal yang harus diperhatikan para petani, yaitu teknologi dan manajemen. “Dengan tanah yang semakin kurang, maka sebuah jawabannya adalah pendekatan teknologi. Tidak ada cara lain
selain harus menerima teknologi dengan sungguh-sungguh. Jangan alergi dengan teknologi!” ujar Moeldoko di hadapan 1.200 petani se-Jawa Timur.

Menurutnya, intensifikasi lahan dengan penerapan teknologi yang juga  intensif dan tepat guna, akan mampu membuat tanah yang terbatas tersebut menjadi lebih produktif dan berlipat hasilnya. Di samping itu, lanjut Moeldoko, yang juga harus dikuasai para petani adalah manajemen. Petani harus bisa menjadi manajer yang baik dari usaha taninya.

“Dalam bertani, semua harus dihitung. Tenaganya, makannya, pupuknya, dan lain-lain. Sebenarnya berapa yang dikeluarkan dalam satu hektar ini. Agar petani itu bisa merasakan, ada hasilnya atau tidak,” jelasnya. Lebih lanjut, Moeldoko menjelaskan, apabila dari hitung-hitungan usaha tani itu tidak ada hasilnya, maka ada hal yang harus dievaluasi. “Jangan sampai kita sudah bertani selama 10 jam setiap harinya tapi hasilnya tidak optimal. Berarti ada yang salah. Ada yang boros. Ada yang perlu diperbaiki. Inilah perlunya manajemen,” terangnya.

Moeldoko menegaskan, petani harus bisa sejahtera. Pendapatan mereka harus bisa lebih baik. Pasalnya, dengan kesejahteraan yang baik, maka kualitas hidupnya juga akan lebih baik. Dan profesi petani itu tidak kehilangan  gengsinya. “Apabila kualitas hidupnya lebih baik, maka akan menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas. Jadi sekali lagi, tidak ada cara lain selain harus menerima teknologi dengan sungguh-sungguh dan belajar menejemen,” terangnya.

Tanah kita dari waktu ke waktu itu terus mengalami penurunan. 5 persoalan yang dihadapi petani salah satunya adalah persoalan kepemilikan tanah. Luas tanah di Indonesia bagi petani itu telah menyusut, kurang lebih 0,2 hektar setiap keluarga petani. Dengan tanah yang semakin kurang, maka satu jawabannya adalah pendekatan teknologi. Nggak ada lagi tanpa teknologi. Benih juga sebagai produk teknologi. Pupuk juga teknologi. Agar tanahnya menjadi baik. Benih baik, tanahnya bagus, maka hasilnya juga akan bagus.

10 ton x 4000 = 40 juta. Ongkos produksi rata2 15 juta, berarti ada penghasilan 25 juta. Dibagi 3 bulan, maka per bulan petani bisa menerima pendapatan 8 juta lebih. Di desa pendapatan 3 juta sudah cukup bagus. Berarti masih ada sisa 5 juta, 2 juta disiapkan untuk naik haji, 1,5 juta untuk persiapan kuliah anak, dan 1,5 juta untuk biaya lain-lain. Jadi dengan pendapatan yang meningkat, maka kesejahteraan keluarga itu lebih baik. Dengan kesejahteraan yang baik, maka kualitas hidupnya juga akan meningkat, gizi, sekolah, dll. Sehingga bisa menghasilkan manusia2 yang berkualitas. Jadi tidak ada cara lain selain harus menerima teknologi dengan sungguh2.

Jangan alergi dengan teknologi. Dengan tanah yang semakin sempit ini, maka perlu teknologi yang semakin intensif. Dengan intensfikasi yang tinggi, maka tanah itu menjadi lebih produktif.

Kedua, para petani harus belajar manajemen. Dalam bertani, semua harus dihitung, tenaganya, makannya, dll. Sebenarnya berapa yang dikeluarkan dalam satu hektar ini. Agar, petani itu bisa merasakan ada hasilnya atau tidak. Kalau tidak ada hasilnya, mesti ada yang dievaluasi lagi. Jangan sampai kita sudah bertani selama 10 jam per hari tapi hasilnya tidak optimal. Berarti ada yang salah. Ada yang boros, ada yang perlu diperbaiki. Inilah perlunya manajemen.

Ketiga, persoalan pasar. Jangan pesimis, jangan ragu2. Meski kita dari desa, tapi kita bisa menghasilkan anak2 hebat. Saya yakindengan tadi itu maka anda menjadi seseorang.

Baca Juga :