HOME
MARKETING
BROSUR
KALA HIJAUAN BISI 228 DATANGKAN KEUNTUNGAN
  63

Jagung super hibrida BISI 228 bukan hanya super kala dipanen tua, tapi saat dipanen muda sebagai bahan baku utama hijauan pakan ternak juga mendatangkan keuntungan yang tak kalah supernya.

Adalah Hasan Prasojo, salah seorang petani jagung di Kelurahan Kebonsari Wetan, Kanigaran Probolinggo, Jawa Timur yang sukses membudidayakan jagung super hibrida BISI 228 khusus untuk dipanen sebagai hijauan pakan ternak (silase) bernilai jual tinggi. Di lahan miliknya sendiri seluas 800 m2, ia menanam benih jagung produksi PT BISI International, Tbk. itu sebanyak 20 kg.

“Saya memang sengaja tanam untuk panen muda sebagai pakan. Jadi saya tanam dengan jarak tanam yang lebih rapat, 55 x 20 cm. Biasanya 20 kilogram benih untuk luasan 1 hektar, ini untuk luasan 800 m2,” ujar Hasan.

Meskipun ditanam dengan jarak tanam yang sangat rapat, performa BISI 228 menunjukkan keunggulan tersendiri. “Tanamannya bisa tumbuh serempak dan sangat seragam. Batangnya besar-besar dan tinggi. Tingginya lebih dari dua meter. Selain itu, harga benihnya juga lebih murah, jadi petani tidak perlu khawatir, tetap lebih menguntungkan,” ucap Hasan.

Hal itu pula yang membuat pedagang pembelinya tertarik. Menurut Hasan, dengan performa tanaman seperti itu, maka hasil panen hijauannya juga lebih bagus. “Apalagi, ukuran tongkolnya lebih besar dan panjang. Jadi bukan hanya batangnya saja yang besar, tapi tongkolnya juga besar, sehingga hasil akhirnya juga lebih banyak,” terangnya.

Hal itu juga dibenarkan Lukman Hakim, petani jagung di Desa Sabrang, Ambulu, Jember, Jawa Timur. Dengan sejumlah karakter yang unggul tersebut, BISI 228 lebih menguntungkan saat dipanen muda untuk pakan ataupun panen tua untuk diambil bijinya.

Tanam (BISI) 228 niku guampang (tanam BISI 228 itu sangat mudah-red.). Panen muda pernah, panen tua juga pernah. Semuanya sama-sama menguntungkan,” ungkap Lukman.

Lebih cepat datangkan untung

Untuk kebutuhan bahan baku hijauan pakan ternak, tanaman jagung umumnya dipanen pada umur sekitar 80 hari setelah tanam (hst). Semua bagian tanaman, kecuali akar, dipanen.

“Dengan perawatan yang standar, selain batangnya lebih besar dan tinggi, tanamannya juga lebih hijau segar. Dengan warna yang lebih hijau, maka bobot BISI 228 lebih bagus. Sehingga harga jualnya juga lebih bagus,” ujar Hasan.

Tanaman BISI 228 milik Hasan yang ditanam di lahan seluas 800 m2 itu pun diborong pedagang senilai Rp17 juta. Semua hasil panen tersebut untuk memenuhi permintaan bahan baku pakan hijauan ternak (silase) dari PT Santosa Agrindo (Santori), salah satu perusahaan peternakan sapi di Probolinggo, Jawa Timur.

Dengan biaya produksi tidak lebih dari Rp5,5 juta, Hasan masih bisa mengantongi keuntungan bersih dari hasil tanam BISI 228 untuk hijauan pakan tersebut lebih dari Rp10 juta.

Hasil manis tanam BISI 228 untuk panen muda sebagai hijauan pakan juga pernah dirasakan oleh Lukman. Dari lahan seluas satu hektar, tanaman jagungnya diborong Rp20 juta. “Alkhamdulillah untungnya masih banyak. Karena perawatannya lebih mudah, sehingga bisa menekan biaya perawatan,” ucapnya.

Salah satu keunggulan BISI 228 yang memudahkan perawatan adalah ketahanannya terhadap serangan penyakit bulai (Peronosclerospora maydis) yang selalu menjadi momok bagi para petani jagung.

“Tanamannya lebih tahan bulai. Jadi lebih aman dan mudah perawatannya,” tambah Lukman.

Menurut Hasan, budidaya jagung BISI 228 untuk hijauan pakan ternak memberi keuntungan tersendiri bagi petani sepertinya. Pasalnya, umur panennya lebih cepat, hingga 1 bulan, sehingga lebih cepat mendatangkan penghasilan dan keuntungan. Selain itu, dalam satu tahun, petani bisa menanam jagung hingga empat kali.

“Karena umur 80-an hari sudah dipanen dan lahannya sudah langsung bersih, sehingga lahannya bisa langsung ditanami lagi tanpa olah tanah. Sehingga dalam setahun bisa empat kali tanam jagung,” terang Hasan.

(ABDI TANI Vol. 19 No. 2/Edisi LXIV, Oktober-Desember 2018)

Baca Juga :