“Tongkol Besar, Panjang, Warna Biji Ceria. Itu yang Saya Mau” – BISI International

   TENTANG KAMI    |
   PRODUK    |
   HOME GARDEN    |
   APLIKASI BISI    |
   INSPIRASI SAHABAT
Baca juga :
Sujai : Terlanjur Mantab Dengan BISI 18
Eden Farm Gandeng BISI Hasilkan 186 Ribu Ton Cabai Per Tahun
Menengok 153 Ha SIMETAL di Perkebunan Glenmore
Memanen Cuciwis Montana
Seluruh artikel inspirasi sahabat petani bisa dibaca dan diakses melalui Aplikasi BISI, download sekarang melalui Google Play di handphone anda.
“Tongkol Besar, Panjang, Warna Biji Ceria. Itu yang Saya Mau”
24 May 2021 [79 views]

(Selasa, 27 April 2021)

Bagi Mohamad Masrudi, menanam jagung hibrida super BISI 321 “Simetal” merupakan pengalaman yang kedua kalinya. Di lahan seluas 1,5 bahu atau sekitar 10.500 m2, ia kembali menanam Simetal untuk menjawab rasa penasarannya.

Memang, pada penanaman perdananya kurang sukses. Saat awal tanam, tepatnya sesaat setelah benih Simetal ia tanam, diguyur hujan lebat hingga lahannya itu tergenang. “Tanahnya sampai tidak terlihat,” kisah petani asal Desa Wonosobo, Srono, Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Ia pun mengira benihnya itu tidak akan bisa tumbuh lantaran tergenang. “Ternyata setelah lima hari, benihnya tumbuh semua. Bagus dan rata,” ujar Mas Rudi.

Saat berumur sekitar 90 hari, angin kencang menerjang hingga merobohkan sebagian besar tanamannya itu. Namun begitu, ia masih bisa mendapatkan hasil yang cukup memuaskan. Menurutnya, meskipun roboh kondisi tongkolnya juga masih bagus. “Besar dan panjang. Warna bijinya ceria. Itu yang saya mau,” kata Mas Rudi.

Dari hasil panen perdananya itu, Mas Rudi masih bisa mendapatkan hasil sebanyak sembilan karung besar jagung gelondong per kilogram benih Simetal. “Setelah saya proses sendiri, per karung itu bisa dapat 52 kilogram pipil kering. Jadi, per kilogram benih saya masih bisa dapat lebih dari 450 kilogram jagung pipilan kering,” terangnya.

Dari situlah rasa penasarannya muncul. Ia ingin membuktikan sendiri bagaimana hasil panen Simetal jika kondisinya normal dan tidak roboh.

Pada penanaman kedua kalinya ini, Mas Rudi memberikan perlakuan sedikit berbeda dari sebelumnya. “(Penyemprotan) fungisidanya saya perbanyak dan pupuknya saya oplos (campur-red.). Sedangkan jarak tanamnya tetap, 80×20 cm,” terangnya.

Penambahan frekuensi penyemprotan fungisida itu, kata Mas Rudi, untuk mengantisipasi serangan penyakit busuk batang dan bulai. Jika sebelumnya hanya tiga kali semprot, kali ini ia lipatkan menjadi enam kali semprot dengan interval tujuh hari sekali.

Sementara untuk pemupukannya, lanjutnya, tetap dua kali, yaitu saat umur 15 HST dan 40 HST. Hanya saja, ia menambahkan pupuk NPK pada setiap tahapan pemupukannya itu. “Biasanya hanya Urea dan Phonska, kali ini saya tambah pupuk NPK,” jelas Mas Rudi.

Hasilnya, kata Mas Rudi, pertumbuhan tanamannya lebih optimal dan batangnya lebih kokoh. “Alhamdulillah tanamannya aman. Mudah-mudahan hasilnya lebih banyak dari sebelumnya,” harapnya.(AT)

IKUTI KAMI
Copyright @ MD | BISI 2020