HOME
MARKETING
BROSUR
SI JAGUNG “BATU” YANG TAHAN KEKERINGAN
  78

BISI 79, itulah namanya. Jagung yang satu ini juga berjenis hibrida. Super hibrida tepatnya. Kenapa harus ada kata ‘super’ di depannya? Karena varietas terbaru dari PT BISI International, Tbk. itu memang memiliki keunggulan tersendiri yang menjadikannya lebih ‘superior’ dari jagung hibrida lainnya.

Apa iya lebih superior? Dari sejumlah petani yang telah mencoba tanam, BISI 79 memang berbeda dari jagung hibrida lain. Seperti Haji Adenan, petani jagung di Desa Kendang Dukuh, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pertama kalinya mencoba menanam jagung tersebut langsung jatuh cinta dan merencanakan untuk tanam lagi di lahan yang lebih luas.

“Ini baru pertama kalinya tanam, hanya 5 kilogram benih. Alkhamdulillah bagus semua tanamannya. Pertumbuhannya bagus, seragam,” ujar Adenan.

Yang paling membuat Adenan tertarik untuk kembali menanam BISI 79 adalah tongkolnya. “Banyak yang bertongkol dua. Padahal ini pakai jajar legowo dengan jarak tanam yang agak rapat, 70x20x40 cm,” ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan Salimin, petani jagung di Desa Sidokerto, Kecamatan Bumi Ratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah. Menurutnya, BISI 79 yang baru pertama kalinya ia coba tanam hampir semuanya bertongkol dua.

“Banyak yang bertongkol dua. Di pinggir sampai di tengah banyak yang bertongkol dua,” ujar Salimin.

Tidak hanya bertongkol dua, tongkol dari BISI 79 juga lebih besar dan seragam. Pun dengan yang bertongkol dua, masing-masing tongkol memiliki ukuran dan bentuk yang seragam.

Ontongnya (tongkolnya-red.) lebih besar. Klobotnya menutup sempurna dan bijinya juga bisa penuh sampai ujung. Yang bertongkol dua juga sama. Besarnya sama dan warna bijinya juga bagus,” terang Adenan.

Warna biji BISI 79, kata Adenan, memang bagus. Secara fisik, bijinya yang bertipe semi mutiara itu memiliki warna oranye kekuningan yang menjadi salah satu penanda tingginya rendemen dan bobot. “Warna bijinya oranye kemerahan, tidak ada putihnya. Biji yang seperti ini kalau digiling lebih bobot dan tidak akan banyak bubuk (tepung-red)-nya,” ujarnya.

Performa BISI 79 tersebut juga mendapat apresiasi Lugiman, PPL Desa Kendang Dukuh sekaligus Koordinator BPP Kecamatan Wonorejo. Menurutnya, dengan bertongkol dua, maka potensi hasil yang bisa didapat petani bisa lebih banyak.

“Saya lihat meskipun ditanam dengan jarak tanam rapat, tanamannya masih bisa bertongkol dua dan besar-besar. Ini membuka peluang peningkatan produksi jagung dan pendapatan petani,” ujar Lugiman.

Batu dan kekeringan

Ada yang menarik saat jagung super hibrida BISI 79 milik Adenan dipanen. Para pekerja bagian angkut dari lahan ke mobil mengeluh. “Jagungnya lebih berat. Untuk menaikkan ke pundak harus dibantu dulu, karena lebih berat. Seperti ngangkat batu,” ujar salah seorang pekerja yang tengah mengangkat hasil panenan BISI 79 dari lahan milik Adenan.

Dibanding dengan jagung lainnya, selisih berat per karung BISI 79 bisa 10 kg lebih berat. Tentunya hal ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi petani.

“Bobotnya memang lain daripada yang lain. Biasanya kalau tanam 1 kilogram benih dapatnya 4 hingga 5 kuintal pipil kering, tapi kalau lihat BISI 79 seperti ini pasti bisa sampai 6 kuintal,” kata Adenan yang sudah 18 tahun menekuni usaha tani si emas kuning ini.

“Makanya setelah selesai ini saya akan tanam lagi yang lebih luas, sekitar 14 kg benih atau satu hektar kurang sedikit. Untuk bekal naik haji lagi,” lanjutnya yakin.

Dari hasil uji rendemen sederhana yang dilakukan dengan mengambil beberapa sampel tongkol jagung BISI 79 dari lahan, rendemennya cukup tinggi, sekitar 83,5%.

“Itu dari hasil timbangan langsung. Empat tongkol yang diambil acak di lahan beratnya 1.099 gram. Setelah dipipil, berat bijinya saja 918 gram. Sehingga ketemu rendemennya, yaitu 83,5 persen,” terang Hasan Prasojo, petugas lapang PT BISI International, Tbk. area Probolinggo.

Selain itu, jagung dengan potensi hasil hingga 12 t/ha tersebut juga lebih adaptif di lingkungan yang sulit air. Sehingga bisa menjadi pilihan yang baik bagi para petani di lingkungan yang sulit air.

Aminatus Solihah membuktikannya sendiri. Petani di Desa Muneng Kidul, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur itu berhasil memanen BISI 79 dalam kondisi lingkungan yang kurang air.

“BISI 79 memang lebih kuat. Meskipun kurang air hasilnya masih bisa bagus. Seperti ini, tongkolnya masih bisa terbentuk optimal, cukup besar, dan seragam,” terang Solihah saat ditemui Abdi Tani di lahan BISI 79 miliknya yang sudah siap panen.

Aman bulai

Sejak awal pertumbuhan, BISI 79 sudah menunjukkan performa yang meyakinkan. Hal itu dibenarkan Ruwadi, petani jagung di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Menurutnya, pertumbuhan jagung tersebut memang lebih bagus dan serempak.

Di lahan bekas, yang sebelumnya juga ditanami jagung, dan tanpa olah tanah maksimum alias hanya ditugal, performa jagung hibrida itu benar-benar membuat Ruwadi jatuh hati. “Pertumbuhannya bagus, kuat, subur sekali. Padahal ditanam di lahan bekas jagung tanpa olah tanah,” terangnya.

Bukan hanya pertumbuhan awalnya saja yang dipuji, ketahanannya terhadap penyakit bulai juga mendapat apresiasi. Salah satunya adalah Sutrisno, petani asal Desa Muji Rahayu, Seputih Agung, Lampung Tengah. BISI 79 yang ditanamnya terbukti aman dari serangan bulai.

“Tanaman saya aman dari bulai. Tidak ada yang terkena bulai sama sekali. Pertumbuhannya bagus dari awal sampai sekarang,” ungkap Sutrisno.

(ABDI TANI Vol. 19 No. 2 Edisi LXIV, Oktober-Desember 2018)

Baca Juga :